Sejarah Galuh VI

Galuh Setelah Pakuan Pajajaran Runtuh
Selama Sri Baduga memerintah di Pakuan, di Galuh pun tetap ada penguasa yang statusnya raja-bawahan Pajajaran. Dan hingga Pakuan Pajajaran runtuh tahun 1579, di Galuh masih terdapat beberapa raja yang memerintah. Mereka di antaranya: Prabu Haur Kuning, Prabu Cipta Sanghiang, Prabu Galuh Cipta Permana atau Ujang Ngekel (yang pertama masuk Islam).
Eksistensi politik Galuh goyah ketika tahun 1595, Mataram menyerang Galuh. Dan selanjutnya, pada masa Sultan Agung invasi militer Mataram terhadap Galuh makin gencar. Oleh penguasa Mataram, penguasa Galuh, Adipati Panaekan, diangkat menjadi Wedana Mataram dengan jumlah pendududk (cacah) sebanyak 960 orang. Ketika Mataram hendak melancarkan serangan terhadap benteng VOC di Batavia tahun 1628, pengikut Mataram di Tanah Sunda berbeda pendapat. Misalnya, Rangga Gempol I dari Sumedang Larang menginginkan pertahanan militer diperkuat dahulu, sementara Dipati Ukur dari Tatar Ukur menginginkan serangan segera saja dilakukan. Pertentangan pun terjadi di Galuh, yakni antara Adipati Panaekan dengan adik iparnya, Dipati Kertabhumi, Bupati Bojonglopang, putra Prabu Dimuntur, keturunan Prabu Geusan Ulun. Perselisihan ini memuncak dan akhirnya pecahlah perkelahian. Adipati Panaekan terbunuh pada tahun 1625. Ia lalu diganti puteranya, Mas Dipati Imbanagara, yang berkedudukan di Garatengah (sekarang Cineam).

Daftar Raja-raja di Galuh (dan Kawali, Saunggalah, dan Pakuan)
1.    Wretikandayun atau Wertikandayun (612-702).
2.    Mandiminyak (702-709).
3.    Sena atau Sang Prabu Bratasena Rajaputra Linggabhumi (709-716 M).
4.    Purbasora (716-723).
5.    Sanjaya Sang Harisdarma atau Rakeyan Jambri (723-732 M), Pakuan-Galuh.
6.    Premana Dikusuma atau Bagawat Sajalajaya (732)
7.    Rahyang Tamperan atau Rakeyan Panaraban (732-739 M), Pakuan-Galuh.
8.    Surotama alias Manarah alias Ciung Wanara atau Prabu Jayaprakosa Mandaleswara
Sakalabhuwana (739-783).
9.    Sang Mansiri atau Prabu  Dharmasakti Wijaleswara (783-799).
10.  Sang Tariwulan atau Prabu  Kertayasa Dewakusaleswara (799-806).
11.  Sang Welengan atau Prabu  Brajanagara Jayabhuwana (806-813).
12.  Prabu  Linggabhumi (813-842).
13.  Rakeyan Wuwus atau Prabu Gajah Kulon (842-891 M), Pakuan-Galuh.
14.  Arya Kedaton atau Prabu Darmaraksa Bhuwana (891-895 M). Catatan: sejak tahun 895 hingga
1311 M, pusat pemerintahan sering berpindah-pindah dari timur (Galuh atau Saunggalah) ke barat
(Pakuan) dan sebaliknya.
15.   Rakeyan Windusakti atau Prabu Dewagong Jayengbhuwana (895-913 M).
16.   Rakeyan Kemuning Gading atau Prabu Pucukwesi atau Sang Mokteng Hujungcariang
(913-916 M).
17.   Rakeyan Jayagiri atau Prabu Wanayasa, adik Pucukwesi (916-942 M).
18.   Rakeyan Watwagong atau Prabu Resi Atmajadarma Hariwangsa (942-954 M), menantu Jayagiri.
19.   Limburkancana atau Sang Mokteng Galuh Pakwan, putra Pucukwesi (954-964 M).
20.   Rakeyan Sunda Sembawa atau Prabu Munding Ganawirya Tapakmanggala Jayasatru
(964-973 M).
21.   Rakeyan Jayagiri atau Prabu Wulung Gadung atau Sang Mokteng Jayagiri (973-989 M).
22.   Rakeyan Gendang atau Prabu  Jayawisesa (989-1012 M).
23.   Sanghyang Ageung atau Prabu Dewa Sanghyang atau Sang Mokteng Patapan
(1012-1019M), Galuh.
24.   Sri Jayabhupati atau Prabu Satya Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti
Samarawijaya Bhuwanamanadala Leswaranindita Harogowardhana Wikramattunggadewa
(1019-1042), Pakuan.
25.    Prabu Dharmaraja Jayamanahen Wisnumurti Sakalasundabhuwana (1042-1064), Galuh.
26.    Prabu Langlangbhumi atau Sang Mokteng Kreta (1064-1154), Pakuan.
27.    Rakeyan Jayagiri atau Prabu Menakluhur Langlangbhumisutah (1154-1156), Pakuan.
28.    Prabu Dharmakusumah atau Sang Mokteng Winduraja (1156-1175), Galuh.
29.   Prabu Guru Dharmasiksa Paramartha Mahapurusa atau Guru Dharmakusumah atau Prabu
Sanghyang Wisnu (1175-1297); di Saunggalah tahun 1175-1187, di Pakuan tahun 1187-1297.
30.   Prabu Ragasuci atau Rakeyan Saunggalah (1297-1303), Saunggalah
31.   Prabu Citragandha (1303-1311), Pakuan.
32.   Prabu Lingga Dewata (1311-1333), Kawali.
33.   Prabu Ajiguna Wisesa (1333-1340), Kawali.
34.   Prabu Ragamulya Luhurprabhawa atau Sang Aki Kolot (1340-1350), Kawali.
35.   Prabu Lingga Bhuwana Wisesa atau Prabu Maharaja atau Sang Mokteng Bubat
(1350-1357 M), Kawali.
36.   Prabu Bunisora (1357-1371), Kawali.
37.   Niskala Wastukancana atau Prabu Raja Wastu atau Sang Mokteng Nusalarang
(1371-1475), Kawali.
38.   Ningratkancana atau Prabu Dewa Niskala atau Sang Mokteng Gunatiga (1475-1482), Kawali.
39.   Sri Baduga Maharaja (1482-1521), Galuh dan Pakuan.

Mitos Buaya dan Harimau
Proses kepindahan ibukota pada masa Sunda-Galuh memiliki pengaruh secara sosial-budaya. Dalam hal tradisi, antara Galuh dengan Sunda memang terdapat perbedaan. Disebutkan, bahwa orang Galuh itu adalah “orang air”, sedangkan orang Sunda itu adalah “orang gunung”. Yang satu (Galuh) memiliki “mitos buaya”, yang lainnya (Sunda) memiliki “mitos harimau”.

Di sekitar Ciamis dan Tasikmalaya masih ada sejumlah tempat yang bernama Panereban. Pada masa silam, tempat tersebut konon merupakan tempat melabuhkan (nerebkeun) mayat karena menurut tradisi Galuh, mayat harus dihanyutkan (dilarung) di sungai. Sebaliknya, orang Kanekes (Banten) yang masih menyimpan banyak sekali peninggalan tradisi Sunda, mengubur mayat dalam tanah (ngurebkeun). Tradisi nerebkeun di sebelah timur dan tradisi ngurebkeun di sebelah barat, membekas dalam istilah panereban dan pasarean.

Perjalanan sejarah lambat-laun telah meleburkan kedua kelompok sub-etnik ini, Galuh dan Sunda (Orang Air dengan Orang Gunung) menjadi akrab. Perbauran ini, contohnya, dilambangkan oleh dongeng Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet (Seekor Kura-kura dan Seekor Monyet). Dongeng fabel khas Sunda ini sangat dikenal oleh segala lapisan masyarakat. Padahal dalam kenyataannya, monyet (wakil dari budaya gunung) dan kuya (wakil dari budaya air) itu bertemu saja mungkin tidak pernah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s